![]() |
| Gambar perantara |
Oleh: Natalis Bukega
Ini bukan perjuangan kompromitas bahkan bukan perjuangan dalam menjalankan metode pembelajaran klass material sementara. Perjuangan ini, merupakan perjuangan absolut dan permanent untuk bebaskan diri dari cara kolonialisme-militerisme-Kapitalis-Imperialisme. Pada abad-21 inilah terjadi perang dagang pada manusia satu ke manusia lainnya seperti theorynya Marx, Nilai tambah (surplus value) dan Nilai kerja (work value). Beragam ijazawan disusahkan dan didekritkan karna kepentingan fase Kolonialisme-Kapitalis hingga ke Imperialisme dalam dunia kerja. Klass bawa (low class) di pekerjakan oleh capital class (kelas kapital).
Wacananya adalah Negara menjadi alat untuk para elitikus-Elitikus dan mengancam, mendistorsikan sejarah dan mengeliminasikan keadaan ruang lingkup hidup. Nah, keadaan dari pembukaan lahan baru untuk menjajah wilayah tersebut dapat di cermati atau di analisiskan seperti di Papua Barat. Klass rakyat terutama Mahasiswa di nawacitakan dengan keadaan yang tidak absolut menjalankan roda birokratis yang sangat kaku. beberapa keadaan itu, Indonesia memposisikan Papua Barat sebagai lahan bisnisnya yang di dalamnya dipekerjakan oleh mahasiswa borjusi, mahasiswa elitis dan mahasiswa pencari pundi-pundi. Keterlibatan itu, terlihat jelas seperti bekerja sebagai mahasiswa Papua Mudah Impratif, dan program-program negara melalui perkumpulan mahasiswa bahkan sampai menjalankan arus eksploitasi dari satu perusahan yang dalamnya ada beasiswa-beasiswa dari perusahan atau bantuan-bantuan.
Ini adalah mahasiswa yang ambiguitas karna merekalah, yang menjalankan kerja-kerja program kolonialisme yang terstruktur. Ada beberapa mahasiswa yang hasil pemikirannya dicurahkan kedalam kepentingan itu, ketika kontradiksi mereka berpindah ruas. Akalnya, sudah kerja dalam itu berbelok masuk ke gerakan-gerakan kiri. Tapi absolut disiplinnya rendah meski pun dia adalah kondisi yang kaku terlihat kokoh. Tidak, hanya pada tahapan mahasiswa saja, melainkan pada manusia Papua yang bergandeng tangan dengan politik kolonial beragam cara keterasingan terlihat jelas di bumi Papua Barat.
Saatnya, membongkar kedok-kedok watak kompromitas yang dijalankan oleh para borjuis, elitis dan otoriter, selama abad-21 ini. Mereka telah berkembang pesat dengan cara analisis capital war (perang Kapital) dan untuk mewujudkan dunia yang di inginkan nanti. Namun, itu di jalankan dengan cara ekspansionis, regulasi, privatisasi, dan liberalisasi. Itulah hak komersil bagi para kolonialisme, Kapitalisme, dan imperialisme dan dimanakah, rakyat Papua Barat melawan itu? Gerakan alternatif/revolusioner harus dibagun untuk membersihkan klass-klass ambiguitas, otoriter serta bagun kekuatan rakyat yang revolusioner akan merebut revolusi.
Komentar